Rabu, 31 Desember 2014

Kiat kurangi lupa dalam belajar

Kiat Mengurangi Lupa dalam Belajar

1.    Definisi Lupa dalam Belajar
Dari pengalaman sehari-hari, kita memiliki kesan seakan-akan apa yang kita alami dan kita pelajari tidak seluruhnya tersimpan dalam akal kita. Padahal menurut teori kognitif apapun yang kita alami dan kita pelajari, kalau memang sistem akal kita mengolahnya dengan cara yang memadai, semuanya akan tersimpan dalam subsistem akal permanen.
Akan tetapi, kenyataan yang kita alami terasa bertolak belakang dengan teori itu. Acapkali terjadi, apa yang telah kita pelajari dengan tekun justru sukar diingat kembali dan mudah terlupakan. Sebaliknya, tidak sedikit pengalaman dan pelajaran yang kita tekuni sepintas lalu mudah melekat dalam ingatan.
Lupa ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau mereproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. Secara sederhana Gulo dan Reber (Syah, Muhibbin 2003:168) mendefinisikan lupa sebgai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Dengan demikian, lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.
Dapatkah lupa dalam belajar siswa diukur secara langsung? Wittig (Syah, Muhibbin 2003:168) menyimpulkan berdasarkan penelitiannya, peristiwa lupa yang dialami seseorang tak mungkin dapat diukur secara langsung. Sering terjadi, apa yang dinyatakan telah terlupakan oleh seorang siswa justru ia katakana.  Untuk memperjelas hal ini, perhatikan contoh berikut:
Apakah sesungguhnya yang menyebabkan siswa anda lupa akan sebagian materi yang telah dipelajari. Pada umumnya orang percaya bahwa lupa terutama disebabkan oleh lamanya tenggang waktu antara terjadinya proses belajar sebuah materi dengan saat pengugkapannya. Namun berdasarkan hasil-hasil penelitian, ternyata anggapan seperti itu nyaris tak terbukti.
2.    Faktor-Faktor Penyebab Lupa
a.       Lupa dapat terjadi karena gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori siswa. Dalam teori mengenail gannguan, gangguan konflik ini terbagi menjadi dua macam: yaitu:
1)      Proactive interverence
Seorang siswa akan mengalami gangguan proaktif apabila materi pelajarn lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanennya menggangu masuknya materi pelajaran baru. Peristiwa ini bisa terjadi apabila siswa tersebut mempelajari sebuah materi pelajaran yang sangat mirip dengan materi pelajaran yang telah dikuasainya dalam tenggang waktu yang pendek. Dalam hal ini, materi yang baru saja dipelajari akan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali.
2)      Retroactive interference
Seorang akan mengalami gangguan retroaktif apabila materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan kembali materi pelajaran lama yang telah lebih dahulu tersimpan dalam subsistem akal permanen siswa tersebut. Dalam hal ini , materi pelajaran lama akan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali. Dengan kata lain, siswa tersebut lupa akan metri pelajaran lama itu.
b.      Lupa terjadi pada seseorang siswa karena adanya tekanan terhadap item yang telah ada baik sengaja ataupun tidak.penekanan ini terjadi karena beberapa kemingkinan yaitu:
1)      Karena item informasi (berupa pengetahuan, tanggapan, kesan dan sebagainya) yang diterima siswa kurang menyenangkan sehingga ia dengan sengaja menekannya hingga kealam ketidaksadaran.
2)      Karena item informasi yang baru secara otomatis menekanitem informasi yang telah ada, jadi sama dengan fenomena retroaktif.
3)      Karena item informasi yang akan diproduksi (diingat kembali) itu tertekan kea lam bawah sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah dipergunakan. menurut law of disuse lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan siswa. Menurut asumsi sebagian ahli, materi yang diperlukan demikian dengan sendirinya akan masuk kea lam bawah sadar atau mungkin juga bercmpur aduk dengan materi pelajaran baru.
c.       Lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali. Jika seorang siswa hanya mengenal gambar yang ada disekolah misalnya, maka ia akanlupa menyebut nama hewan-hewan tadi ketika melihatnya dikebun binatang.
d.      Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu. Jadi meskipun seorang siswa telah mengikuti proses mengajar belajar dengan tekun dan serius, tetapi karena Sesutu hal sikap dan minat tersebut menjadi sebaliknya (seperti karena ketidaksenangan kepada guru) maka metri pelajaran itu akan mudah terlupakan
e.       Lupa tentu saja dapat terjadi karena perubahan urat syarat otak. Seorang siswa yang terserang penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan alcohol, dan gegar otak akan kehilangan ingatan atas item-item informasi yang ada dalam memori permanennya.
Ada satu penemuan baru yang menyimpulkan bahwa lupa dapat dialami seorang siswa apabila item informasi yang ia serap rusak sebelum masuk ke memori permanenya. Item yang rusak itu tidak hilang dan tetap diproses oleh sistem memori siswa tadi, tetapi terlalu lemah untuk dipanggil kembali. Kerusakan item informasi tersebut mungkin disebabkan karena tenggang waktu antara diserapnya item informasi dengan saat proses pengkodean dan tranformasi dalam memori jangka pendek siswa tersebut.
Apakah materi pelajaran yang terlupakan oleh siswa benar-benar hilang dari ingatan akalnya? Menurut pandangan para ahli psikologi kognitif “tidak!” materi pelajaran itu masih terdapat dalam subsistem akal permanen siswa namun terlalu lemah untuk dipanggil atau diingat kembali. Buktnya banyak siswa yang mengeluh “kehilangan ilmu”, setelah melakukan relearning (belajar lagi) atau mengikuti remedial teaching (pengajara perbaikan) ternyata dapat menunjukan kinerja akademik yang lebih memuaskan daripada kinerja akademik sebelumnya. Hal ini bermakna bahwa relearning atau remedial teaching berfungsi memperbaiki atau menguatkan item-item informasi yang rusak atau lemah dalam memori para siswa tersebut., sehingga mereka berhasil mencapai prestasi yang memuaskan.
3.    Kiat Mengurangi Lupa dalam Belajar
Lupa itu manusiawi dan mungkin anda tak mampu mencegahnya secara keseluruhan. Namun sekedar mengurangi proses terjadinya lupa yang sering dialami para siswa dapat anda lakukan dengan berbagai kiat.
     Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa. Banyak ragam kiat yang dapat dicoba siswa dalam meningkatkan daya ingatannya, antara Barlow (1985), Reber (1988), dan Anderson (1990) adalah sebagai berikut:
1)   Overlearning
Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. Overlearning terjadi apabila respons atau reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran atau respons tersebut dengan cara di luar kebiasaan. Banyak contoh yang dapat dipakai untuk overlearning, antara lain pembacaan teks pancasila pada setiap hari senin dan sabtu memungkinkan ingatan siswa terhadap materi PKN lebih kuat.
2)    Extra Study Time
Extra Study Time (tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar materi tertentu berarti siswa menambah jam belajar. Penambahan frekuensi belajar berarti siswa meningkatkan kekerapan belajar materi tertentu. Kiat ini dipandang cukup strategis karena dapat melindungi memori dari kelupaan.
3)     Mnemonic Device
Mnemonic device (muslihat memori) yang sering juga disebut mnemonic itu berarti kiat khusus yang dijadikan “alat pengait” mental untuk memasukkan item-item informasi ke dalam sistem akal siswa. Muslihat Mnemonic device ini banayak ragamnya, seperti penerapan kosa kata dalam menghafal Dhasa Dharma pramuka, di dingkat menjadi Ta, Ci, Pa, Pa, Re, Ra, He, Di, Be, Su. Ta: Takwa kepada tuhan yang maha esa, dan seterusnya. Misalnya juga urutan planet terdekat dari matahari disingkat Me, Ve, Bu, Ma, Yu, Sa, U, Ne.
4)     Latihan terbagi
Lawan latihan terbagi (distributed practice) adalah massed practice (latihan terkumpul) yang sudah dianggap tidak efektif karena mendorong siswa melakukan cramming. Dalam latihan terbagi siswa melakukan latihan-latihan waktu-waktu istirahat. Upaya demikian dilakukan untuk menghindari camming, yakni belajar banyak materi secara tergesa-gesa dalam waktu yang singkat. Dalam melaksanakan istributed practice, siswa dapat menggunakan berbagai metode dan strategi belajar yang efisien.


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan komentar dengan sopan, teman