Kiat Mengurangi Lupa dalam Belajar
1. Definisi
Lupa dalam Belajar
Dari pengalaman
sehari-hari, kita memiliki kesan seakan-akan apa yang kita alami dan kita
pelajari tidak seluruhnya tersimpan dalam akal kita. Padahal menurut teori
kognitif apapun yang kita alami dan kita pelajari, kalau memang sistem akal
kita mengolahnya dengan cara yang memadai, semuanya akan tersimpan dalam
subsistem akal permanen.
Akan tetapi,
kenyataan yang kita alami terasa bertolak belakang dengan teori itu. Acapkali
terjadi, apa yang telah kita pelajari dengan tekun justru sukar diingat kembali
dan mudah terlupakan. Sebaliknya, tidak sedikit pengalaman dan pelajaran yang
kita tekuni sepintas lalu mudah melekat dalam ingatan.
Lupa ialah
hilangnya kemampuan untuk menyebut atau mereproduksi kembali apa-apa yang
sebelumnya telah kita pelajari. Secara sederhana Gulo dan Reber (Syah, Muhibbin
2003:168) mendefinisikan lupa sebgai ketidakmampuan mengenal atau mengingat
sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Dengan demikian, lupa bukanlah
peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.
Dapatkah lupa
dalam belajar siswa diukur secara langsung? Wittig (Syah, Muhibbin 2003:168)
menyimpulkan berdasarkan penelitiannya, peristiwa lupa yang dialami seseorang
tak mungkin dapat diukur secara langsung. Sering terjadi, apa yang dinyatakan
telah terlupakan oleh seorang siswa justru ia katakana. Untuk memperjelas hal ini, perhatikan contoh
berikut:
Apakah
sesungguhnya yang menyebabkan siswa anda lupa akan sebagian materi yang telah dipelajari.
Pada umumnya orang percaya bahwa lupa terutama disebabkan oleh lamanya tenggang
waktu antara terjadinya proses belajar sebuah materi dengan saat
pengugkapannya. Namun berdasarkan hasil-hasil penelitian, ternyata anggapan
seperti itu nyaris tak terbukti.
2. Faktor-Faktor
Penyebab Lupa
a. Lupa
dapat terjadi karena gangguan konflik antara item-item informasi atau materi
yang ada dalam sistem memori siswa. Dalam teori mengenail gannguan, gangguan
konflik ini terbagi menjadi dua macam: yaitu:
1) Proactive
interverence
Seorang siswa akan
mengalami gangguan proaktif apabila materi pelajarn lama yang sudah tersimpan
dalam subsistem akal permanennya menggangu masuknya materi pelajaran baru.
Peristiwa ini bisa terjadi apabila siswa tersebut mempelajari sebuah materi
pelajaran yang sangat mirip dengan materi pelajaran yang telah dikuasainya
dalam tenggang waktu yang pendek. Dalam hal ini, materi yang baru saja
dipelajari akan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali.
2) Retroactive
interference
Seorang akan mengalami
gangguan retroaktif apabila materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan
terhadap pemanggilan kembali materi pelajaran lama yang telah lebih dahulu
tersimpan dalam subsistem akal permanen siswa tersebut. Dalam hal ini , materi
pelajaran lama akan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali. Dengan kata
lain, siswa tersebut lupa akan metri pelajaran lama itu.
b. Lupa
terjadi pada seseorang siswa karena adanya tekanan terhadap item yang telah ada
baik sengaja ataupun tidak.penekanan ini terjadi karena beberapa kemingkinan
yaitu:
1) Karena
item informasi (berupa pengetahuan, tanggapan, kesan dan sebagainya) yang
diterima siswa kurang menyenangkan sehingga ia dengan sengaja menekannya hingga
kealam ketidaksadaran.
2) Karena
item informasi yang baru secara otomatis menekanitem informasi yang telah ada,
jadi sama dengan fenomena retroaktif.
3) Karena
item informasi yang akan diproduksi (diingat kembali) itu tertekan kea lam
bawah sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah dipergunakan. menurut law
of disuse lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak
pernah digunakan atau dihafalkan siswa. Menurut asumsi sebagian ahli, materi
yang diperlukan demikian dengan sendirinya akan masuk kea lam bawah sadar atau
mungkin juga bercmpur aduk dengan materi pelajaran baru.
c. Lupa
dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi lingkungan antara waktu
belajar dengan waktu mengingat kembali. Jika seorang siswa hanya mengenal
gambar yang ada disekolah misalnya, maka ia akanlupa menyebut nama hewan-hewan
tadi ketika melihatnya dikebun binatang.
d. Lupa
dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan
situasi belajar tertentu. Jadi meskipun seorang siswa telah mengikuti proses
mengajar belajar dengan tekun dan serius, tetapi karena Sesutu hal sikap dan
minat tersebut menjadi sebaliknya (seperti karena ketidaksenangan kepada guru)
maka metri pelajaran itu akan mudah terlupakan
e. Lupa
tentu saja dapat terjadi karena perubahan urat syarat otak. Seorang siswa yang
terserang penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan alcohol, dan gegar
otak akan kehilangan ingatan atas item-item informasi yang ada dalam memori
permanennya.
Ada satu
penemuan baru yang menyimpulkan bahwa lupa dapat dialami seorang siswa apabila
item informasi yang ia serap rusak sebelum masuk ke memori permanenya. Item
yang rusak itu tidak hilang dan tetap diproses oleh sistem memori siswa tadi,
tetapi terlalu lemah untuk dipanggil kembali. Kerusakan item informasi tersebut
mungkin disebabkan karena tenggang waktu antara diserapnya item informasi
dengan saat proses pengkodean dan tranformasi dalam memori jangka pendek siswa
tersebut.
Apakah materi
pelajaran yang terlupakan oleh siswa benar-benar hilang dari ingatan akalnya?
Menurut pandangan para ahli psikologi kognitif “tidak!” materi pelajaran itu
masih terdapat dalam subsistem akal permanen siswa namun terlalu lemah untuk
dipanggil atau diingat kembali. Buktnya banyak siswa yang mengeluh “kehilangan
ilmu”, setelah melakukan relearning (belajar lagi) atau mengikuti remedial teaching
(pengajara perbaikan) ternyata dapat menunjukan kinerja akademik yang lebih
memuaskan daripada kinerja akademik sebelumnya. Hal ini bermakna bahwa
relearning atau remedial teaching berfungsi memperbaiki atau menguatkan
item-item informasi yang rusak atau lemah dalam memori para siswa tersebut.,
sehingga mereka berhasil mencapai prestasi yang memuaskan.
3.
Kiat Mengurangi Lupa dalam Belajar
Lupa itu manusiawi dan mungkin anda tak
mampu mencegahnya secara keseluruhan. Namun sekedar mengurangi proses terjadinya
lupa yang sering dialami para siswa dapat anda lakukan dengan berbagai kiat.
Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara
meningkatkan daya ingat akal siswa. Banyak ragam kiat yang dapat dicoba siswa
dalam meningkatkan daya ingatannya, antara Barlow (1985), Reber (1988), dan
Anderson (1990) adalah sebagai berikut:
1) Overlearning
Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang
melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. Overlearning
terjadi apabila respons atau reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan
pembelajaran atau respons tersebut dengan cara di luar kebiasaan. Banyak contoh
yang dapat dipakai untuk overlearning, antara lain pembacaan teks pancasila
pada setiap hari senin dan sabtu memungkinkan ingatan siswa terhadap materi
PKN lebih kuat.
2) Extra Study Time
Extra Study Time
(tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar materi
tertentu berarti siswa menambah jam belajar. Penambahan frekuensi belajar
berarti siswa meningkatkan kekerapan belajar materi tertentu. Kiat ini
dipandang cukup strategis karena dapat melindungi memori dari kelupaan.
3) Mnemonic Device
Mnemonic device
(muslihat memori) yang sering juga disebut mnemonic itu berarti kiat khusus
yang dijadikan “alat pengait” mental untuk memasukkan item-item informasi ke
dalam sistem akal siswa. Muslihat Mnemonic device ini banayak ragamnya, seperti
penerapan kosa kata dalam menghafal Dhasa Dharma pramuka, di dingkat menjadi
Ta, Ci, Pa, Pa, Re, Ra, He, Di, Be, Su. Ta: Takwa kepada tuhan yang maha esa,
dan seterusnya. Misalnya juga urutan planet terdekat dari matahari
disingkat Me, Ve, Bu, Ma, Yu, Sa, U, Ne.
4) Latihan terbagi
Lawan latihan terbagi
(distributed practice) adalah massed practice (latihan terkumpul) yang sudah dianggap
tidak efektif karena mendorong siswa melakukan cramming. Dalam latihan terbagi
siswa melakukan latihan-latihan waktu-waktu istirahat. Upaya demikian dilakukan
untuk menghindari camming, yakni belajar banyak materi secara tergesa-gesa
dalam waktu yang singkat. Dalam melaksanakan istributed practice, siswa dapat
menggunakan berbagai metode dan strategi belajar yang efisien.








0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan komentar dengan sopan, teman